Kamis, 25 Juni 2009

Komunikasi Terapeutik Perawat Pada Gangguan Jiwa Klien Dewasa
Sri Wahyuningsih

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo
Po.Box 2 Kamal-Telang, Bangkalan Madura 69165
e-mail: naningunijoyo@yahoo.com
CP: 081553088855, 085294539819


Abstraksi:
Keterampilan komunikasi terapeutik harus dikuasai oleh perawat karena ini merupakan bagian yang penting dalam membantu penyembuhan klien terutama klien dewasa yang memiliki ganggguan jiwa atau stress yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor biologic, faktor psikologic, dan faktor sosiobudaya. Perawat harus mempunyai sikap komunikasi yang bagus, mengembangkan helping relationship, menguasai prinsip-prinsip komunikasi terapeutik untuk melakukan fase-fase hubungan terapeutik. Dalam membangun hubungan yang terapeutik dengan klien dewasa model komunikasi yang ada adalah 1) Model Interaksi King yaitu memberikan penekanan pada proses komunikasi antara perawat-klien. King menggunakan sistem perspektif untuk menggambarkan bagaimana profesional kesehatan (perawat) untuk memberi bantuan pada klien. Bahwa interaksi perawat-klien secara simultan membuat keputusan tentang keadaan mereka dan tentang orang lain dan berdasarkan persepsi mereka terhadap situasi. 2) Model Komunikasi Kesehatan difokuskan pada transaksi antara profesional kesehatan (perawat)-klien. Tiga faktor utama dalam proses komunikasi kesehatan yaitu relationship, transaksi, dan konteks.

Keywords: Komunikasi Terapeutik, Perawat-Klien Dewasa, Model Komunikasi Interaksi King dan Komunikasi Kesehatan.

1. Pendahuluan
Penyakit mental, disebut juga gangguan mental, penyakit jiwa, atau gangguan jiwa, adalah gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi mental. Penyakit mental adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Penyakit mental ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita (dan keluarganya). Penyakit mental dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras, agama, maupun status sosial-ekonomi. Penyakit mental bukan disebabkan oleh kelemahan pribadi.
Sekitar 20% dari kita akan mengalami gangguan mental pada suatu waktu dalam hidup kita. Gangguan mental yang mungkin dialami oleh tiap orang itu berbeda-beda dalam hal jenis, keparahan, lama sakit, frekuensi kekambuhan, dan cara pengobatannya. (http://www.geocities.com/almarams/MentDis_What.htm).
Ada beberapa jenis gangguan jiwa, tetapi kasus yang banyak menimpa masyarakat di Indonesia adalah gangguan jiwa afektif. Tipe gangguan jiwa tersebut ditandai dengan adanya gangguan emosi (afektif) yang mempengaruhi perilaku penderitanya.
Menurut ahli penyakit jiwa dr Surya Widya, dari RS Jiwa Dr Soeharto Heerdjan Grogol, Jakarta Barat, terdapat dua jenis gangguan jiwa afektif, yakni gangguan depresif dan manik. Gejala pokok pada depresi, lanjutnya, antara lain muncul perasaan sedih dan kehilangan gairah terhadap segala sesuatu. Penderitanya biasanya terlihat murung, sukar tidur, tidak ada harapan, merasa terbuang, tidak berharga dan sering merasa tersakiti perasaannya hingga sampai tidak mampu menangis lagi. "Hanya dengan memperhatikan riwayat penyakit terdahulu dan riwayat keluarga, kedua jenis gangguan jiwa itu dapat dibedakan dengan jelas," ungkap dr Surya Widya kepada Media Indonesia sebelum menyampaikan makalahnya pada simposium Deteksi Dini dan Penatalaksanaan Terapi Gangguan Jiwa dalam Praktik Umum, di Jakarta Sabtu (27/10/2007).
"Sebaliknya pada gangguan manik, pasien menunjukkan keadaan gembira yang tinggi, cenderung berlebihan sehingga mendorong pasien berbuat sesuatu yang melampaui batas kemampuannya, pembicaraan menjadi tidak sopan dan membuat orang lain menjadi tidak enak," jelas dr Widya Pasien manik yang tidak dirawat, tambahnya, sering kali meminum alkohol secara berlebihan, berjudi secara patologik, mengenakan perhiasan rias wajah dan perhiasan secara mencolok, hingga membuka baju di tempat umum. Pasien suka terlibat secara berlebihan dalam masalah keagamaan, politik, keuangan hingga melakukan adegan seksual secara bebas. Terkadang mereka juga menjadi regresi, seperti bermain dengan urine dan kotorannya sendiri.
Pada simposium yang diselenggarakan oleh Universitas Kristen Indonesia (UKI), Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida), Universitas Pelita Harapan (UPH), dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta Barat itu, dr Widya juga menjelaskan faktor-faktor penyebab depresi. Menurutnya, depresi bisa karena kehilangan atau kematian pasangan hidup atau seseorang yang sangat dekat, menderita penyakit fisik berat (lama mengalami penderitaan)."Gangguan ini paling banyak dijumpai pada usia 40-50 tahun dan kondisinya makin buruk pada lanjut usia (lansia). Pada usia pertengahan persentase perempuan lebih banyak dari laki-laki, tetapi di atas umur 60 tahun keadaan menjadi seimbang."Pada perempuan, katanya, mungkin ada kaitannya dengan masa menopause. Bahkan hampir 2/3 pasien depresi memikirkan untuk bunuh diri meski hanya 10%-15% yang melakukan percobaan bunuh diri.
Di tempat yang sama Presiden IDI dr Fachmi Idris mengatakan, di Indonesia berdasarkan hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) Departemen Kesehatan (Depkes) 2001, terdapat 104 penderita per 1.000 penduduk untuk rentang usia di bawah 15 tahun. Sedangkan pada usia di atas 15 tahun terdapat 140 penderita per 1.000 penduduk.
"Para penderita gangguan jiwa di negara kita masih menjadi golongan yang tersisih. Kondisi ini disebabkan tingkat kesadaran masyarakat masih rendah, adanya stigma negatif terhadap para penderita, ketertutupan pihak keluarga terdekat akibat perasaan malu memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa hingga fasilitas pengobatan dan rehabilitasi yang masih kurang. Ini yang harus kita perbaiki," jelasnya. (http://victor-health.blogspot.com/2007/11/gangguan-jiwa-afektif-tertinggi-di.html).
Gangguan jiwa dipengaruhi oleh banyak faktor. Dalam diktat kuliah psikiatri, Dr. dr. Luh Ketut Suryani mengungkapkan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi karena tiga faktor yang bekerja sama yaitu faktor biologik, psikologik, dan sosiobudaya.
(1). Faktor Biologik,
Untuk membuktikan bahwa gangguan jiwa adalah suatu penyakit seperti kriteria penyakit dalam ilmu kedokteran, para psikiater mengadakan banyak penelitian di antaranya mengenai kelainan-kelainan neutransmiter, biokimia, anatomi otak, dan faktor genetik yang ada hubungannya dengan gangguan jiwa. Gangguan mental sebagian besar dihubungkan dengan keadaan neuttransmiter di otak, misalnya seperti pendapat Brown et al, 1983, yaitu fungsi sosial yang kompleks seperti agresi dan perilaku seksual sangat dipengaruhi oleh impuls serotonergik ke dalam hipokampus.
Demikian juga dengan pendapat Mackay, 1983, yang mengatakan noradrenalin yang ke hipotalamus bagian dorsal melayani sistem monoamine di limbokortikal berfungsi sebagai pemacu proses belajar, proses memusatkan perhatian pada rangsangan yang datangnya relevan dan reaksi terhadap stres.
Pembuktian lainnya yang menyatakan bahwa gangguan jiwa merupakan suatu penyakit adalah di dalam studi keluarga. Pada penelitian ini didapatkan bahwa keluarga penderita gangguan efektif, lebih banyak menderita gangguan afektif daripada skizofrenia (Kendell dan Brockington, 1980), skizofrenia erat hubungannya dengan faktor genetik (Kendler, 1983). Tetapi psikosis paranoid tidak ada hubungannya dengan faktor genetik, demikian pendapat Kender, 1981).
Walaupun beberapa peneliti tidak dapat membuktikan hubungan darah mendukung etiologi genetik, akan tetapi hal ini merupakan langkah pertama yang perlu dalam membangun kemungkinan keterangan genetik. Bila salah satu orangtua mengalami skizofrenia kemungkinan 15 persen anaknya mengalami skizofrenia.
Sementara bila kedua orangtua menderita maka 35-68 persen anaknya menderita skizofrenia, kemungkinan skizofrenia meningkat apabila orangtua, anak dan saudara kandung menderita skizofrenia (Benyamin, 1976). Pendapat ini didukung Slater, 1966, yang menyatakan angka prevalensi skizofrenia lebih tinggi pada anggota keluarga yang individunya sakit dibandingkan dengan angka prevalensi penduduk umumnya.
(2). Faktor Psikologik
Hubungan antara peristiwa hidup yang mengancam dan gangguan mental sangat kompleks tergantung dari situasi, individu dan konstitusi orang itu. Hal ini sangat tergantung pada bantuan teman, dan tetangga selama periode stres. Struktur sosial, perubahan sosial dan tigkat sosial yang dicapai sangat bermakna dalam pengalaman hidup seseorang.
Kepribadian merupakan bentuk ketahanan relatif dari situasi interpersonal yang berulang-ulang yang khas untuk kehidupan manusia. Perilaku yang sekarang bukan merupakan ulangan impulsif dari riwayat waktu kecil, tetapi merupakan retensi pengumpulan dan pengambilan kembali.
Setiap penderita yang mengalami gangguan jiwa fungsional memperlihatkan kegagalan yang mencolok dalam satu atau beberapa fase perkembangan akibat tidak kuatnya hubungan personal dengan keluarga, lingkungan sekolah atau dengan masyarakat sekitarnya. Gejala yang diperlihatkan oleh seseorang merupakan perwujudan dari pengalaman yang lampau yaitu pengalaman masa bayi sampai dewasa.
(3). Faktor Sosiobudaya
Gangguan jiwa yang terjadi di berbagai negara mempunyai perbedaan terutama mengenai pola perilakunya. Karakteristik suatu psikosis dalam suatu sosiobudaya tertentu berbeda dengan budaya lainnya. Adanya perbedaan satu budaya dengan budaya yang lainnya, menurut Zubin, 1969, merupakan salah satu faktor terjadinya perbedaan distribusi dan tipe gangguan jiwa.
Begitu pula Maretzki dan Nelson, 1969, mengatakan bahwa alkulturasi dapat menyebabkan pola kepribadian berubah dan terlihat pada psikopatologinya. Pendapat ini didukung pernyataan Favazza (1980) yang menyatakan perubahan budaya yang cepat seperti identifikasi, kompetisi, alkulturasi dan penyesuaian dapat menimbulkan gangguan jiwa.
Selain itu, status sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa Goodman (1983) yang meneliti status ekonomi menyatakan bahwa penderita yang dengan status ekonomi rendah erat hubungannya dengan prevalensi gangguan afektif dan alkoholisma. (http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2005/8/3/k4.htm/litbang).
Yang penting untuk diketahui, penyakit mental dapat diobati. Seperti halnya orang dengan diabetes (kencing manis) yang harus minum obat kencing manis, demikian juga orang dengan gangguan mental yang serius perlu obat untuk meredakan gejala-gejalanya. Kita harus mencari pertolongan untuk mengatasi gangguan mental seperti halnya kita pergi berobat untuk penyakit lainnya. Orang dengan penyakit mental membutuhkan dukungan/suport, penerimaan dan pengertian dari kita semua. Mereka juga punya hak seperti orang lain. Bukan malah ditakuti, dijauhi, diejek, atau didiskriminasi.
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas bahwa gangguan jiwa memerlukan penyembuhan tidak hanya secara medic saja tetapi bisa melalui penyembuhan alternatif lain yaitu dengan menerapi pasien gangguan jiwa dengan teknik komunikasi terapeutik yang akan dilakukan perawat (profesional kesehatan) terhadap pasien (klien).
II. Komunikasi Terapeutik Perawat pada Klien Dewasa

2.1. Komunikasi Pada Klien Dewasa
Menurut Erikson 1985, pada orang dewasa terjadi tahap hidup intimasi vs isolasi, dimana pada tahap ini orang dewasa mampu belajar membagi perasaan cinta kasih, minat, masalah dengan orang lain.
Orang dewasa sudah mempunyai sikap-sikap tertentu, pengetahuan tertentu, bahkan tidak jarang sikap itu sudah sangat lama menetap dalam dirinya, sehingga tidak mudah untuk merubahnya. Juga pengetahuan yang selama ini dianggapnya benar dan bermanfaat belum tentu mudah digantikan dengan pengetahuan yang baru jika kebetulan tidak sejalan dengan yang lama. Tegasnya orang dewasas bukan seperti gelas kosong yang dapat diisikan sesuatu. Oleh karena itu dikatakan bahwa kepada orang dewasa tidak dapat diajarkan sesuatu untuk merubah tingkah lakunya dengan cepat. Orang dewasa belajar kalau ia sendiri ingin belajar, terdorong akan tidak puas lagi dengan perilakunya yang sekarang, maka menginginkan suatu perilaku lain di masa mendatang, lalu mengambil langkah untuk mencapai perilaku baruitu.
Dari segi psikologis, orang dewasa dalam situasi komunikasi mempunyai sikap-sikap tertentu yaitu:
1. Komunikasi adalah suatu pengetahuan yang diinginkan oleh orang dewasa itu sendiri, maka orang dewasa tidak diajari tetapi dimotivasikan untuk mencari pengetahuan yang lebih mutakhir.
2. Komunikasi adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus, manusia punya perasaan dan pikiran.
3. Komunikasi adalah hasil kerjasama antara manusia yang saling memberi dan menerima, akan belajar banyak, karena pertukaran pengalaman, saling mengungkapkan reaksi dan tanggapannya mengenai suatu masalah.

2.2. Suasana Komunikasi
Dengan adanya faktor tersebut yang mempengaruhi efektifitas komunikasi orang dewasa, maka perhatian dicurahkan pada penciptaan suasana komunikasi yang diharapkan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam berkomunikasi dengan orang dewasa adalah:
1. Suasana hormat menghormati
Orang dewasa akan mampu berkomunikasi dengan baik apabila pendapat pribadinya dihormati, ia lebih senang kalau ia boleh turut berfikir dan mengemukakan fikirannya.
2. Suasana saling menghargai
Segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, sistem nilai yang dianut perlu dihargai. Meremehkan dan menyampingkan harga diri mereka akan dapat menjadi kendala dalam jalannya komunikasi.
3. Suasana saling percaya
Saling mempercayai bahwa apa yang disampaikan itu benar adanya akan dapat membawa hasil yang diharapkan.
4. Suasana saling terbuka
Terbuka untuk mengung,kapkan diri dan terbuka untuk mendengarkan orang lain. Hanya dalam suasana keterbukaan segala alternatif dapat tergali.
Komunikasi verbal dan nonverbal adalah saling mendukung satu sama lain. Seperti anak-anak, perilaku nonverbal sama pentingnya pada orang dewasa. Akspresi wajah, gerakan tubuh dan nada suara member tanda tentang status emosional dari orang dewasa. Tetapi harus ditekankan bahwa orang dewasa mempunyai kendala pada hal ini.
Orang dewasa yang dirawat di rumah sakit bisa merasa tidak berdaya, tidak aman dan tidak mampu ketika dikelilingi oleh tokoh-tokoh yang berwenang. Status kemandirian mereka telah berubah menjadi status dimana orang lain yang memutuskan kapan mereka makan dan kapan mereka tidur. Ini merupakan pengalaman yang mengancam dirinya, dimana orang dewasa tidak berdaya dan cemas, dan ini dapat terungkap dalam bentuk kemarahan dan agresi.
Dengan dilakukan komunikasi yang sesuai dengan konteks pasien sebagai orang dewasa oleh professional, pasien dewasa akan mampu bergerak lebih jauh dari imobilitas bio psikososialnya untuk mencapai penerimaan terhadap masalahnya.

2.3. Model-Model Konsep Komunikasi dan Penerapannya pada Klien Dewasa
a. Model Interaksi King (1971)
Model ini menekankan pada proses komunikasi yang terjadi antara Perawat-Klien merupakan hasil interaksi yang bertujuan untuk menentukan suatu keputusan dalam pelaksanaan tindakan kesehatan. Perawat tidak dapat melakukan tindakan kepada klien tanpa ada proses interaksi dan komunikasi tentang tindakan yang akan dilakukan pada klien. Perawat perlu menjelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan, resiko-resiko yang mungkin terjadi pada klien, akibat bila tindakan dilakukan, dan biaya yang dikeluarkan dalam tindakan tersebut, semua harus dikomunikasikan oleh klien agar keputusan yang dibuat oleh klien merupakan keputusan yang tepat dan yang terbaik.
Dalam pelaksanaannya, model ini menggunakan pandangan sistem dalam upaya membantu klien untuk mempertahankan kesehatan. Perawat perlu mengkaji dan menganalisa komponen apa saja yang terkait dengan status kesehatan klien. Perawat tidak hanya terfokus pada satu masalah karena komponen-komponen tersebut sangat terkait dan mengkait. Masalah kesehatan klien selain disebabkan oleh individu itu sendiri juga perlu dikaji faktor lingkungannya, sosial budaya masyarakat disekelilingnya. Dalam kontek komunikasi, untuk meningkatkan dan mempertahankan status kesehatan klien, model ini menekankan perlu adanya hubungan timbal balik antara individu dan sistem sosial yang berlaku.


Feedback

Perception Judgment Action
Nurse
Patient
Action Judgment Perception
Reaction
Interaction
Transaction
Feedback





Gambar 2.1 Model Interaksi King. Suatu Pendekatan proses komunikasi perawat-klien (Sumber: Peter Guy & Laurel L, 1985)
Model Komunikasi Kesehatan
Model komunikasi kesehatan berfokus pada transaksi antara professional kesehatan – klien yang sesuai dengan permasalahan kesehata klien. Proses pengiriman dan penerimaan pesan antara professional dan klien terjadi secara simultan, sehingga komunikasi yang terjadi cenderung lebih nampk dan aktif. Model komunikasi ini mencakup tiga factor mayor, yaitu:
1. Relationship, ada empat tipe:
a. Professional kesehatan – Profesional kesehatan
b. Profesional kesehatan – Klen
c. Profesional kesehatan – Orang lain yang berpengaruh
d. Klien – Oang lain yang berpengaruh
Hubungan interpersonal, sikap positif, pengetahuan, pengalaman masa lalu dan faktor sosial ekonomi dapat mempengaruhi relationship.
Profesional kesehatan adalah seseorang yang mempunyai latar belakang pendidikan kesehatan, trainingdan pengalaman dalam memberikan pelayanan kesehatan pada klien, meliputi: perawat, dokter, fisioterapis, tenaga kesehatan, administrasi dan sebagainya. Professional kesehatan mempunyai karakteristik, kepercayaan, nilai dan persepsi yang unik, hal ini tentunya dapat mempengaruhi interaksi dengan orang lain.
Klien adalah seseorang yang menerima pelayanan kesehatan secara langsung, yang mempunyai citra pribadi yang mandiri, yang mempunyai pilihan bebas dalam mencari dan memilih bantjuan serta bertanggung jawab terhadap pilihannya. Klien juga mempunyai karakteristik, kepercayaan, nilai dan persepsi yang unik dalam pelayanan kesehatan, hal ini juga mempengaruhi interaksi dengan orang lain.
Orang lain yang berpengaruh adalah orang yang mendukung baik dukungan moril, material, maupun emosional dengan klien untuk mempertahankan kesehatannya. Misalnya anggota keluarga, teman, atasan dan sebagainya.
2. Transaksi
Transaksi dalam komunikasi adalah kesepakatan, respon yang terjadi antara pengirim pesan dengan penerima pesan yang terjadi secara simultan dalam proses komunikasi. Transaksi yang terjadi mencakup perilaku komunikasi verbal dan nonverbal, yang mencakup dimensi isi dan berhubungan, terjadi secara berkesinambungan, tidak statis dan ada umpan balik.
3. Konteks
Faktor konteks dalam model ini adalah situasi dimana pelayanan kesehatan diberikan. Konteks komunikasi dapat berdasarkan pada tempat atau ruang dilaksanakan komunikasi, jenis pelayanan kesehatan yang diberikan, dan jumlah personil atau tenaga kesehatan yang ada selama memberikan pelayanan. Petugas yang terbatas akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas komunikasi. Rogers, C.R (1961) menekankan bahwa fokus interaksi dalam pelayanan kesehatan adalah klien, seorang terapis/perawat apabila berkomunikasi harus bersikap jujur, peduli tingkst pemahaman klien, dan berkeinginan membantu klien.

2.4. Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara perawat – klien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Maksud komunikasi adalah mempengaruhi perilaku orang lain.
Hubungan terapeutik sebagai pengalaman belajar baik bagi klien maupun perawat yang diidentifikasikan dalam empat tindakan yang harus di ambil antara perawat – klien, yaitu:
- Tindakan diawali perawat
- Respon reaksi dari klien
- Interaksi dimana perawat dank lien mengkaji kebutuhan klien dan tujuan
- Transaksi dimana hubungan timbal balik pada akhirnya dibangun untuk mencapai tujuan hubungan.
Kalthner, dkk (1995) mengatakan bahwa komunikasi terapeutik terjadi dengan tujuan menolong pasien yang dilakukan oleh orang-orang yang professional dengan menggunakan pendekatan personal berdasarkan perasaan dan emosi. Di dalam komunikasi terapeutik ini harus ada unsur kepercayaan.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar dan bertujuan yang kegiatannya difokuskan untuk kesembuhan pasien, dan merupakan komunikasi professional yang mengarah pada tujuan untuk penyembuhan pasien (Heri Purwanto, 1994).
Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal yaitu komunikasi antara orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal dan nonverbal. (Mulyana, 2000).
Persoalan mendasar dari komunikasi terapeutik adalah adanya saling kebutuhan antara perawat dan pasien, perawat membantu pasien dan pasien menerima bantuan.
2.4.1. Tujuan Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik dilaksanakan dengan tujuan:
1. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal-hal yang diperlukan.
2. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
3. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri dalam hal peningkatan derajat kesehatan.
4. Mempererat hubungan atau interaksi antara klien dengan terapis (tenaga kesehatan) secara professional dan proporsional dalam rangka membantu penyelesaian masalah klien.
2.4.2. Mengembangkan “Helping Relationship”
Hubungan perawat-klien tidak sekedar hubungan mutualis. Travelbee (1971) menyebutkan hubungan ini sebagai “a human to human relationship”. Kelemahan yang ada pada perawat dank lien akan menjadi hilang ketika masing-masing pihak yang terlibat interaksi mencoba memahami kondisi masing-masing. Perawat menggunakan keterampilan komunikasi interpersonalnya untuk mengembangkan hubungan dengan klien yang akan menghasilkan pemahaman tentang klien sebagai manusia utuh. Hubungan semacam ini bersifat terapeutik yang dapat meningkatkan iklim psikologis yang kondusif dan memfasilitasi perubahan dan perkembangan positif pada diri klien. Hubungan ini juga difokuskan pada tujuan utama untuk membantu memenuhi kebutuhan klien. Kreasi dari lingkungan yang terapeutik dapat memacu kemampuan perawat untuk memberikan kenyamanan fisik dan psikososial pada klien. Peran utama perawat adalah meyakinkan bahwa kebutuhan fisiologi pasien benar-benar terpenuhi. Misalnya perawat mengatur posisi pasien agar dapat bernafas dengan normal dan tidur dengan nyaman tanpa gangguan.
Helping Relationship antara perawat-klien tidak dapat begitu saja terjadi, namun harus dibangun secara cermat dalam melakukan tehnik komunikasi yang terapeutik.
Carl Rogers (1961) adalah orang yang secara intensif melakukan penelitian tentang komunikasi terapeutik. Rogers berpendapat bahwa komunikasi terapeutik bukan tentang apa yang dilakukan seseorang, tetapi bagaimana seseorang itu melakukan komunikasi dengan orang lain. Rogers mengidentifikasikan tiga factor dasar dalam mengembangkan hubungan yang saling membantu (helping relationship), yaitu 1) pembantu harus benar-benar ikhlas dan memahami tentang dirinya, 2) pembantu harus menunjukkan rasa empati, dan 3) individu yang dibantu harus merasa bebas untuk mengeluarkan segala sesuatunya tentang dirinya dalam menjalin hubungan. Dengan demikian ada tiga hal mendasar dalam mengembangkan Helping Relationship, yaitu:
1. Genuineness
Untuk membantu klien, perawat harus menyadari tentang nilai, sikap, dan perasaan yang dimiliki klien. Apa yang dipikirkan dan dirasakan perawat tentang individu dan dengan siapa dia berinteraksi perlu selalu dikomunikasikan baik secara verbal maupun nonverbal. Perawat yang mampu menunjukkan rasa ikhlasnya mempunyai kesadaran mengenai sikap yang dipunyai klien sehingga mampu belajar untuk mengkomunikasikannya secara tepat. Perawat tidak akan menolak segala bentuk perasaan negatif yang dipunyai klien, bahkan ia akan berusaha berinteraksi dengan klien, hasilnya, perawat akan mampu mengeluarkan segala perasaan yang dimiliki dengan cara yang tepat, bukan dengan cara menyalahkan atau menghukum klien. Tidak selalu untuk melakukan keikhlasan. Untuk menjadi lebih percaya diri tentang perasaan dan nilai-nilai yang dimiliki membutuhkan pengembangan diri yang dapat dipertimbangkan untuk dilakukan setiap saat, sehingga sekali perawat mampu untuk menyatakan apa yang dia inginkan untuk membantu memulihkan kondisi pasien dengan cara yang tidak mengancam, pada saat itu pula kapasitas yang dimiliki untuk mencapai hubungan yang saling menguntungkan akan meningkat secara bermakna.

2. Emphaty
Emphati merupakan perasaan, “pemahaman” dan “penerimaan” peraawat terhadap perasaan yang dialami klien, dan kemampuan merasakan “dunia pribadi klien”. Empati merupakan sesuatu yang jujur, sensitif, dan tidak dibuat-buat (obyektif) yang didasarkan atas apa yang dialami orang lain. Empati berbeda dengan simpati. Simpati merupakan kecenderungan berfikir atau merasakan apa yang sedang dilakukan atau dirasakan oleh klien. Karenanya simpati lebih bersifat subyektif dengan melihat “dunia orangnlain” unruk mencegah prespektif yang lebih jelas dari semua sisi yang ada tentang isu-isu yang dialami seseorang.
Sebgaai perawat empatik, perawat harus berusaha keras untuk mengetahui secara pasti apa yang sedang dipikirkan dan dialami klien. Pada kondisi seperti ini, empati dapat diekspresikan melalui berbagai cara yang dapat dipakai ketika dibutuhkan, mengatakan sesuatu tentang apa yang difikirkan perawat tentang klien, dan memperlihatkan kesadaran tentang apa yang saat ini sedang dialami klien. Empati membolehkan perawat untuk berpartisipasi sejenak terhadap sesuatu yang terkait dengan emosi klien. Perawat yang berempati dengan orang lain dapat menghindarkan penilaian berdasarkan kata hati (impulsive judgment) tentang seseorang dan pada umumnya dengan empati dia akan menjadi lebih sensitif dan ikhlas.
3. Warmth
Hubungan yang saling membantu (Helping Relationship) dilakukan untuk memberikan kesempatan klien mengeluarkan “uneg-uneg” (perasaan dan nilai-nilai) secara bebas. Dengan kehangatan, perawat akan mendorong klien untuk mengekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam bentuk perbuatan tanpa rasa takut dimaki atau dikonfrontasi. Suasana yang hangat, permisif, dan tanpa adanya ancaman menunjukkan adanya rasa penerimaan perawat terhadap klien.
Sehingga klien dapat mengekpresikan perasaannya secara lebih bebas dan mendlam. Kondisi ini akan membuat perawat mempunyai kesempatan lebih luas untuk mengetahui kebutuhan klien. Kehangatan juga dapat dikomunikasikan secara nonverbal. Penampilan yang tenang, suara yang meyakinkan, dan pegangan tangan yang halus menunjukkan rasa belas kasihan atau kasih saying perawat kepada klien.
2.4.3. Fase-Fase Hubungan Terapeutik
1. Fase Pra-interaksi Perawat dengan Klien
- Mengumpulkan data tentang klien
- Mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan diri
- Menganalisa kekuatan professional diri dan keterbatasan
- Membuat rencana pertemuan dengan klien (kegiatan, waktu, tempat)
2. Orientasi
- Memberikan salam dan tersenyum pada klien
- Memperkenalkan diri dan menanyakan nama klien
- Melakukan validasi (kognitif, psikomotor, afektif) pada pertemuan berikutnya
- Menentukan mengapa klien mencari pertolongan
- Menyediakan kepercayaan, penerimaan, dan komunikasi terbuka
- Membuat kontrak timbal balik
- Mengeksplorasi perasaan klien, pikiran dan tindakan
- Mengidentifikasi masalah klien
- Mendefinisikan tujuan dengan klien
- Menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan
- Menjelaskan kerahasiaan
3. Kerja
- Memberikan kesempatan klien untuk bertanya
- Menanyakan keluhan utama/keluhan yang mungkin berkaitan dengan kelancaran pelaksanaan kegiatan
- Memulai kegiatan dengan cara yang baik
- Melakukan kegiatan sesuai dengan rencana
4. Terminasi
- Menciptakan realitas perpisahan
- Menyimpulkan hasil kegiatan: evaluasi hasil dan proses
- Saling mengeksplorasi perasaan penolakan, kehilangan, sedih, marah dan perilaku lain.
- Memberikan reinforcement positif
- Merencanakan tindak lanjut dengan klien
- Melakukan kontrak untuk pertemuan selanjutnya (waktu, tempat, topic)
- Mengakhiri kegiatan dengan baik
2.4.4. Sikap Perawat dalam Berkomunikasi
Perawat hadir secara utuh (fisik dan psikologis) pada waktu berkomunikasi dengan klien. Perawat tidak cukup hanya mengetahui teknik komunikasi dan isi komunikasi tetapi yang sangat penting adalah sikap atau penampilan dalam berkomunikasi.
Kehadiran diri secara fisik
Egan (1975), dikutip oleh Kozier dan Erb, 1983; 372) mengidentifikasi 5 sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik, yaitu:
1. Berhadapan. Arti dari posisi ini adalah “saya siap membantu mengatasi masalah anda”.
2. Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi. Sikap ini juga dapat menciptakan perasaan nyaman bagi klien.
3. Membungkuk kea rah klien. Posisi ini menunjukkan kepedulian dan keinginan perawat untuk mengatakan atau mendengar sesuatu yang dialami klien.
4. Mempertahankan sikap terbuka. Tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi. Sikap terbuka perawat ini meningkatkan kepercayaan klien kepada perawat atau petugas kesehatan lainnya.
5. Tetap relaks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon terhadap klien. Sikap ini terutama sangat bermanfaat bila klien dalam kondisi stress atau emosi yang labil dalam merespon kondisi sakitnya.
Sikap fisik dapat pula disebut sebagai perilaku nonverbal yang perlu dipelajari pada setiap tindakan keperawatan.
Kehadiran Diri Secara Psikologis
Kehadiran diri secara psikologis dapat dibagi dalam 2 dimensi yaitu dimensi respond an dimensi tindakan (Truax, Carkhoff dan Benerson, dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1987; 126).
Dimensi Respon
Dimensi respon merupakan sikap perawat secara psikologis dalam berkomunikasi kepada klien. Dimensi respon terdiri dari respon perawat yang ikhlas, menghargai, empati dan konkrit. Dimensi respon sangat penting pada awal berhubungan dengan klien untuk membina hubungan saling percaya dan komunikasi yang terbuka. Respon ini harus terus dipertahankan sampai pada akhir hubungan.
Keikhlasan
Sikap ikhlas perawat dapat dinyatakan melalui keterbukaan, kejujuran, ketulusan dan berperan aktif dalam berhubungan dengan klien. Perawat berespon dengan tulus, tidak berpura-pura, mengekspresikan perasaan yang sebenarnya dan spontan. Perawat bertindak sepenuh hatinya sesuai dengan tanggung jawab dan wewenangnya.
Menghargai
Perawat menerima klien apa adanya. Sikap perawat harus tidak menghakimi, tidak mengkritik, tidak mengejek dan tidak menghina. Rasa menghargai dapat dikomunikasikan melalui: duduk diam bersama klien yang menangis, minta maaf atas hal yang tidak disukai klien dan menerima permintaan klien untuk tidak menanyakan pengalaman tertentu. Sikap ini secara psikologis dapat menimbulkan perasaan nyaman dan peningkatan harga diri bagi klien.
Empati
Empati merupakan kemampuan masuk dalam kehidupan klien agar dapat merasakan pikiran dan perasaannya. Perawat memandang melalui pandangan klien, merasakan melalui perasaan klien dan kemudian mengidentifikasikan masalah klien serta membantu klien mengatasi masalah tersebut. Melalui penelitian, Mansfield (dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1987; 129) mengidentifikasi perilaku verbal dan nonverbal yang menunjukkan tingkat empati yang tinggi sebagai berikut:
- Memperkenalkan diri pada klien
- Kepala dan badan membungkuk kea rah klien
- Respon verbal terhadap pendapat klien, khususnya pada kekuatan dan sumber daya klien
- Kontak mata dan berespon pada tanda nonverbal klien misalnya nada suara, gelisah, ekspresi wajah
- Tunjukkan perhatian, minat, kehangatan, melalui ekspresi wajah
- Nada suara konsisten dengan ekspresi wajah dan respon verbal.
Konkrit
Perawat menggunakan istilah yang khusus dan jelas, bukan yang abstrak. Hal ini perlu untuk menghindarkan keraguan dan ketidakjelasan selama komunikasi. Sikap ini mempunyai tiga kegunaan, yaitu:
- Mempertahankan respon perawat terhadap perasaan klien
- Member penjelasan yang akurat oleh perawat
- Mendorong klien memikirkan masalah yang spesifik.


Dimensi Tindakan
Dimensi tindakan tidak dapat dipisahkan dengan dimensi respon. Tindakan yang dilaksanakan harus dalam konteks kehangatan dan pengertian. Perawat senior sering segera masuk dimensi tindakan tanpa membina hubungan yang adekuat sesuai dengan dimensi respon. Dimensi respon membawa klien pada tingkat pemilikan diri yang tinggi dan kemudian dilanjutkan dengan dimensi tindakan.
Dimensi tindakan terdiri dari konfrontasi, kesegeraan, keterbukaan, emotional chatersis dan bermain peran (Stuart dan Sundeen, 1987; 131 dalam Mundakir 2006)
1. Konfrontasi
Konfrontasi merupakan ekspresi perasaan perawat tentang perilaku klien yang tidak sesuai. Carkhoff (dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1987; 131), mengidentifikasi 3 kategori konfrontasi, yaitu:
Ketidaksesuaian antara konsep diri klien (ekspresi klien tentang dirinya) dan ideal diri klien (keinginan klien)
Ketidaksesuaian antara ekspresi nonverbal dan perilaku klien
Ketidaksesuaian antara pengalaman klien dan pengalaman perawat.
Konfrontasi berguna untuk meningkatkan kesadaran klien terhadap kesesuaian perasaan, sikap, kepercayaan dan perilaku. Konfrontasi dilakukan secara asertif, bukan marah atau agresif. Sebelum melakukan konfrontasi perawat peril mengkaji antara lain: tingkat hubungan saling percaya, waktu yang tepat, tingkat kecemasan klien, dan kekuatan koping klien. Konfrontasi sangat diperlukan pada klien yang telah mempunyai kesadaran diri tetapi perilakunya belum berubah.
2. Kesegeraan
Kesegeraan berfokus pada interaksi dan hubungan perawat-klien saat ini. Perawat sensitive terhadap perasaan klien dan berkeinginan membantu dengan segera. Tindakan perawat untuk segera berespon terhadap keluhan klien menimbulkan perasaan tentang klien dan keluarganya. Hal ini sangat penting terutama kepada klien atau keluarganya. Hal ini sangat penting terutama kepada klien atau keluarganya yang mudah panik terhadap perubahan yang dialami klien.
3. Keterbukaan
Perawat harus terbuka dalam memberikan informasi tentang dirinya, ideal diri, perasaan, sikap dan nilai yang dianutnya. Perawat membuka diri tentang pengalaman yang berguna untuk terapi klien. Tukar pengalaman ini member keuntungan pada klien untuk mendukung kerjasama dan member sokongan. Perawat yang pelit informasi dan miskin komunikasi dengan klien akan menghambat berlangsungnya tindakan keperawatan dengan baik. Klien akan membatasi diri bahkan cenderung tidak cooperatif dengan tindakan yang dilakukan perawat. Melalui penelitian ditemukan bahwa peningkatan keterbukaan antara perawat-klien dapat menurunkan tingkat kecemasan perawat-klien (Johnson, dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1987; 134).
4. Emotional Chatarsis
Emotional chartasis terjadi jika klien diminta bicara tentang hal yang sangat mengganggu dirinya. Ketakutan, perasaan dan pengalaman dibuka dan menjadi topic diskusi antara perawat-klien. Perawat harus dapat mengkaji kesiapan klien mendiskusikan masalahnya. Jika klien mengalami kesukaran mengekspresikan perasaannya, perawat dapat membantu dengan mengekspresikan perasaannya jika berada pada situasi klien.
5. Bermain Peran
Bermain peran adalah melakukan pada situasi tertentu. Hal ini berguna untuk meningkatkan kesadaran dalam berhubungan dan kemampuan melihat situasi dari pandangan orang lain. Bermain peran menjembatani antara pikiran serta perilaku dank lien akan merasa bebas mempraktikkan perilaku yang baru pada lingkungan yang aman.
2.4.5. Teknik Komunikasi Terapeutik
Dalam menanggapi pesan yang disampaikan klien, perawat dapat menggunakan berbagai teknik komunikasi terapeutik sebagai berikut (Stuart dan Sudeen, 1987; 124 dalam Mundakir 2006):

Mendengar
Merupakan dasar utama dalam komunikasi. Dengan mendengar perawat mengetahui perasaan klien, memberi kesempatan lebih banyak pada klien untuk bicara. Perawat harus menjadi pendengar yang aktif.dengan tetap kritis dan korektif bila apa yang disampaikan klien perlu diluruskan. Tujuan teknik ini adalah memberi rasa aman klien dalam mengungkapkan perasaannya dan menjaga kestabilan emosi/psikologis klien.
Pertanyaan Terbuka
Teknik ini member kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya sesuai kehendak klien tanpa membatasi, agar klien merasa aman dalam mengungkapkan perasaannya, perawat dapat memberi dorongan dengan cara mendengar atau mengatakan “saya mengerti apa yang saudara katakan”
Mengulang
Mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien. Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien.
Klarifikasi
Dilakukan bila perawat ragu, tidak jelas, tidak mendengar atau klien berhenti karena malu mengemukakan informasi, informasi yang diperoleh tidak lengkap atau mengemukakannya berpindah-pindah.
Refleksi
Refleksi merupakan reaksi perawat-klien selama berlangsungnya komunikasi. Refleksi ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Refleksi isi, bertujuan memvalidasi apa yang didengar. Klarifikasi ide yang diekspresikan klien dengan pengertian perawat, dan Refleksi perasaan, yang bertujuan member respon pada perasaan klien terhadap isi pembicaraan agar klien mengetahui dan menerima perasaannya.
Teknik refleksi ini berguna untuk:
Mengetahui dan menerima ide dan perasaan
Mengoreksi
Memberi keterangan lebih jelas
Sedangkan kerugiannya adalah:
Mengulang terlalu sering tema yang sama
Dapat menimbulkan marah, iritasi dan frustasi
Memfokuskan
Membantu klien bicara pada topik yang telah dipilih dan yang penting serta menjaga pembicaraan tetap menuju tujuan yaitu lebih spesifik, lebih jelas dan berfokus pada realitas.
Membagi Persepsi
Meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan dan pikirkan. Dengan cara ini perawat dapat meminta umpan balik dan memberi informasi.
Identifikasi Tema
Mengidentifikasi latar belakang masalah yang dialami klien yang muncul selama percakapan. Gunanya untuk meningkatkan pengertian dan mengeksplorasi masalah yang penting.
Diam
Cara yang sukar, biasanya dilakukan setelah mengajukan pertanyaan, tujuannya untuk memberi kesempatan berfikir dan memotivasi klien untuk bicara. Pada klien yang menarik diri, teknik diam berarti perawat menerima klien. Teknik ini memberikan waktu pada klien untuk berfikir dan menghayati, memperlambat tempo interaksi, sambil perawat menyampaikan dukungan, pengertian, dan penerimaannya. Diam juga memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan berguna pada saat klien harus mengambil keputusan.
Memberi informasi)
Teknik ini bertujuan memberi informasi dan fakta untuk pendidikan kesehatan bagi klien, misalnya perawat menjelaskan tentang penyebab sakit yang dialami klien.

Saran
Memberi alternatif ide untuk pemecahan masalah. Tepat dipakai pada fase kerja dan tidak tepat pada fase awal hubungan.
Humor
Humor bisa mempunyai beberapa fungsi dalam hubungan terapeutik. Florence Nightingale dalam Anonymous (1999) pernah mengatakan bahwa suatu pengalaman pahit sangat baik ditangani dengan humor. Humor dapat meningkatkan kesadaran mental dan kreativitas, serta menurunkan tekanan darah dan nadi (Anonymous, 1999). Tidak ada aturan kapan, bagaimana, dan dimana humor seharusnya digunakan. Dalam hubungan terapeutik penggunaannya bergantung pada kualitas hubungan (Stuart, G.W., 1998). Dalam beberapa kondisi berikut humor mungkin bisa dilakukan:
Pada saat klien mengalami kecemasan ringan sampai sedang, humor mungkin bisa menurunkan kecemasan klien.
Jika relevan dan konsisten dengan sosial budaya klien.
Membantu klien mengatasi masalah lebih efektif.
Perawat perlu menganalisis teknik yang tepat pada setiap berkomunikasi dengan klien, karena ketidaktepatan menggunakan teknik dalam berkomunikasi dapat berpengaruh terhadap proses dan keberhasilan komunikasi. Informasi yang akurat dapat disampaikan melalui komunikasi verbal, namun aspek emosi dan perasaan tidak dapat diungkapkan seluruhnya melalui verbal.dalam hal ini dibutuhkan kemampuan perawat untuk menghadirkan diri, menggunakan teknik komunikasi secara tepat dan pemahaman terhadap respon emosional klien.
Dengan mengerti proses komunikasi dan mempunyai berbagai keterampilan berkomunikasi, perawat diharapkan mampu menggunakan dirinya secara utuh (verbal dan nonverbal) dalam member efek terapeutik pada klien.
Memberikan Pujian
Seseorang akan cenderung berinteraksi apabila ia merasa interaksi tersebut menguntungkan, baik secara psikologis maupun ekonomis (Rahmat, J., 1996). Memberikan pujian (reinforcement) merupakan keuntungan psikologis yang didapatkan klien ketika berinteraksi ketika berinteraksi dengan perawat. Reinforcement berguna untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien (Geldard, D., 1998). Reinforcement bisa diungkapkan dengan kata-kata ataupun melalui isyarat nonverbal. Isyarat nonverbal bisa disampaikan dengan memberikan acungan jempol ketika klien melakukan sesuatu yang menurut perawat merupakan perubahan positif. Reinforcement ini banyak membantu membantu dalam menyembuhkan klien dengan harga diri rendah, menarik diri, dan juga depresi.

III. Penutup
Hubungan terapeutik adalah suatu proses merespons dengan tanggung jawab, tanggung jawab yang dimulai dengan konfrontasi, pengertian dan afirmasi diri dan kehidupan individu; yang membutuhkan komitmen bagi perkembangan potensial dan kemungkinan pribadi, sehingga kita dapat menolong yang lain memenuhi kehidupan mereka dengan diperkaya, diperluas dan pribadi yang terpilih. Hal ini adalah tanggung jawab yang membutuhkan keyakinan dalam diri sendiri dan dalam kehidupan keperawatan, keyakinan rasional yang telah berasal dari keseimbangan pengetahuan, keahlian dan sikap, dan berasal dari keterbukaan hati dan pikiran melalui pencarian, penelitian dan pembaharuan.
Perawat adalah seorang yang profesional yang pertama dari semua kehidupan pribadi dengan tujuan khusus yang bertujuan menciptakan keperawatan dengan cara yang sedemikian rupa yang memicu penyembuhan, menginspirasi harapan, membantu manusia menemukan arti pada kehidupan dan menjelang ajal. Perawat hadir pada kaitan dengan orang lain, keluarga, atau komunitas. Hubungan terapeutik dapat berupa satu-satu, satu dengan keluarga, satu dengan komunitas atau kenyataannya bias menjadi komunitas perawat dengan komunitas manusia. Ini merupakan hubungan ketika waktu aktual keterlibatan pada hubungan tersebut menjadi kurang bermakna dibanding pengalaman integritas dan kualitas. Hal ini merupakan tindakan kolaboratif dengan yang lainnya, hubungan terhadap intensitas, pribadi dan saham professional, suatu komitmen kepada orang lain tentang penghargaan terhadap kehidupan dan menjelang ajal. Merupakan esensi manifestasi manusia terhadap cinta “manusia”.



Daftar Pustaka:
Buku:
Anonymous, 1999, Someday we’ll laugh about this, Nursing Management: 30 (45-47)
Basford, Lynn & Oliver Slevin, 2006, Teori &Praktek Keperawatan (Pendekatan Integral pada Asuhan Pasien), Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Copel, Linda Carmen, 2007, Kesehatan Jiwa & Psikiatri (Pedoman Klinis Perawat), Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Geldard D, 1998, Basic Personal Councelling: A Training Manual for Counsellors, ed ke-3. New South Wales, Erskineville.
King, I, M, 1981, A Theory for Nursing: System, Concepts, Process, New York: John Wiley & Sons, Inc
Liliweri, Alo, 2007, Dasar-Dasar Komunikasi Kesehatan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Roger, B, Ellis dkk, 2000, Komunikasi Interpersonal dalam Keperawatan, Jakarta, EGC.
Rogerrs, C, R, 1951, Client Centered Therapy, Boston: Houghton Mifttin Company.
Rahmat, J, 1996, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya.
Stuart, G.W. 1998, Therapeutic Nurse-Patient Relationship dalam Stuart, G.W. & Sundee, S.J. 1998. Principle and Practice of Psyciatric Nursing. Ed ke-6. St. Louis, Mosby Year Book.
Suryani, 2006, Komunikasi Terapeutik Teori dan Praktek, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Uripni, Christina Lia, dkk, 2003, Komunikasi Kebidanan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Internet:
http://victor-health.blogspot.com/2007/11/gangguan-jiwa-afektif-tertinggi-di.html, akses 22 Maret 2009.
http://www.geocities.com/almarams/MentDis_What.htm, akses 22 Maret 2009.
http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2005/8/3/k4.htm, akses 24 2009 (litbang)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar