Minggu, 07 Juni 2009

Hambatan dan Kegagalan Komunikasi antara Orang Tua dan Anak

HAMBATAN DAN KEGAGALAN KOMUNIKASI KELUARGA ANTARA ORANG TUA DAN ANAK (Komunikasi Efektif dalam Perspektif Islam dan Psikologi)

Oleh: Sri Wahyuningsih*)

Dalam Hadits diketengahkan oleh Ibnu Majah 2/1211, “Muliakanlah anak-anakmu dan didiklah mereka dengan baik.” Mendidik dan memberikan tuntunan merupakan sebaik-baiknya hadiah dan perhiasan paling indah yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya jauh lebih baik daripada dunia dan segala isinya (Rahman, 2005: 25).

I. LATAR BALAKANG
Tidaklah mudah untuk melakukan komunikasi secara efektif. Bahkan beberapa ahli komunikasi menyatakan bahwa tidak mungkinlah seseorang melakukan komunikasi yang sebenar-benarnya efektif. Ada banyak hambatan yang bisa menyebabkan komunikasi mengalami kegagalan (Effendy, 2003: 45).
Pola-pola komunikasi interpersonal mempunyai efek yang berlainan pada hubungan interpersonal. Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering orang melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain, makin baik hubungan mereka. Yang menjadi soal adalah bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan. Tetapi bagaimana komunikasi itu dilakukan. Kita akan melihat bahwa dalam sebuah keluarga komunikasi itu sangat dibutuhkan, kurangnya berkomunikasi dengan anggota keluarga (orang tua dengan anak) dan bagaimana kita akan berkomunikasi dengan anggota keluarga kita, semua itu akan menentukan suatu keharmonisan hubungan antara anggota keluarga yang satu dengan anggota keluarga yang lain.
Dalam berkomunikasi, tidak lepas dari berbagai hambatan, hal ini disebabkan antara lain adanya gangguan baik yang berasal dari luar maupun dari diri orang yang sedang berkomunikasi. Gangguan yang berasal dari luar antara lain suara orang bertengkar, suara mobil yang keras, pandangan seseorang yang mencurigakan dan sebagainya. Sedangkan gangguan yang berasal dari orang yang sedang berkomunikasi itu antara lain: kemarahan, kesedihan dan sebagainya yang menyebabkan konsentrasi dalam berkomunikasi terganggu (www.google.com, bkkbn, Mei 2007).
Dalam Effendy (2003: 45-49), hambatan komunikasi yang harus menjadi perhatian bagi komunikator kalau ingin komunikasinya sukses dalam artian disini adalah orang tua dengan anak adalah 1) gangguan: mekanik yaitu gangguan yang disebabkan saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik, semantik yaitu bersangkutan dengan pesan komunikasi yang pengertiannya menjadi rusak yaitu melalui penggunaan bahasa; 2) Kepentingan yaitu seseorang akan selektif dalam menanggapi atau menghayati suatu pesan; 3) Motivasi Terpendam akan mendorong seseorang berbuat sesuatu yang sesuai benar dengan keinginan, kebutuhan dan kekurangannya; 4) Prasangka merupakan salah satu rintangan atau hambatan berat bagi suatu kegiatan komunikasi oleh karena orang yang mempunyai prasangka belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang hendak melancarkan komunikasi.
Keutuhan keluarga dan keharmonisan keluarga sangat berperan terhadap kehangatan hubungan orang tua dengan anak. Apabila orang tuanya sering bercekcok dan menyatakan sikap saling bermusuhan dengan disertai tindakan-tindakan agresif, keluarga itu tidak dapat disebut utuh. Terdapat beberapa hasil penelitian sebagai berikut: R. Stury melaporkan pada tahun 1938, bahwa 63 persen dari anak nakal dalam suatu keluarga yang tidak utuh. K. Gottschaldt, Leipzig 1950 mendapatkan bahwa 70,8 persen dari anak-anak yang sulit dididik yang ia selidiki, berasal dari keluarga-keluarga yang tidak teratur, tidak utuh, atau mengalami tekanan hidup yang terlampau berat. Demikian pula sekurang-kurangnya 50 persen dari anak nakal di Prayuwana dan Penjara Anak-anak Tangerang berasal dari keluarga-keluarga yang tidak utuh, menurut hasil penelitian Lembaga Penyelidikan Pendidikan IKIP Bandung tahun 1959 dan 1960 (Gerungan, 2002:185).
Menjadi orang tua, tidak semudah yang dibayangkan namun juga tidak sesulit yang ditakutkan. Orang tua yang gagal akan mengatakan betapa susahnya menjadi orang tua karena hubungan komunikasi orang tua dan anak kurang efektif sehingga tidak mencapai tujuan dan malah sebaliknya anak kehilangan arah dirinya sebagai sosok manusia yang tidak berguna seperti terlibat obat-obatan terlarang (kenakalan remaja), mempunyai perilaku agresif yang mengakibatkan kerugian pada dirinya sendiri maupun orang lain terutama keluarganya, merasa gagal dalam menerapkan komunikasinya. Sedangkan orang tua yang berhasil mengatakan betapa indahnya menjadi orang tua, karena komunikasi yang terjalin mendapatkan respon yang positif dari anaknya sehingga tercapai tujuan bersama.
Dari yang penulis amati, banyak fenomena yang terjadi dalam dunia keluarga terutama hubungan orang tua dan anak sering kali diantaranya terjadi hambatan bahkan kegagalan komunikasi ini (disharmonis communication) sehingga menyebabkan anak terlibat perilaku yang menyimpang seperti kenakalan remaja seperti yang telah diungkapkan di atas, karena anak disini merasa tidak puas akan perhatian orang tuanya dan akhirnya mencari pelarian sendiri yaitu mencari kesenangan di luar lingkungan keluarganya. Dalam (www.google.com, hidayatullah, Mei 2007) bahwa fenomena yang terjadi itu cenderung disebabkan antara lain:
1. Keterbatasan waktu dan terpola terburu-buru komunikasi dari orang tua dan anak.
2. Orang tua tidak mengenali diri sendiri.
3. Orang tua tidak paham akan kebutuhan dan keinginan mereka.
4. Orang tua belum menyadari bahwa pribadi unik bagi seiap anak sehingga kurang sabar.
5. Orang tua belum terampil membaca bahasa tubuh anak.
6. Senang memakai gaya populer orang tua pada saat anak bermasalah.
7. Tidak memilah dan memisahkan masalah siapa.
8. Pendengar yang pasif
9. Sering menyampaikan pesan yang tanggung maksudnya tidak tuntas sampai anak mengerti. Tetapi pada kenyataannya anak kurang mengerti atau misunderstanding.
Dari yang telah diuraikan penulis di atas maka terlahirlah suatu permasalahan yang tentunya harus dijelaskan pemecahannya atau mencari solusinya, permasalahannya adalah sebagai berikut:
1. Mengapa komunikasi dalam keluarga seringkali mengalami hambatan bahkan kegagalan antara orang tua dan anak?
2. Bagaimana sebaiknya komunikasi dan relasi antara pribadi difungsikan bagi peserta keluarga?

II. PEMBAHASAN

Kita akan melihat pengertian komunikasi terlebih dahulu, komunikasi adalah sebuah proses dimana pesan disampaikan oleh sumber pada penerimanya bisa berupa lambang-lambang (simbol). Pada umumnya orang berkomunikasi mempunyai tujuan antara lain: untuk memberikan informasi yang dimiliki dengan orang lain, untuk membujuk atau mempengaruhi orang (lawan komunikasi), untuk saling mengerti satu sama lain, untuk menyampaikan sesuatu yang dirasakan, dan untuk mendapatkan informasi tentang keadaan diri sendiri. Lebih spesifik dalam bahasan ini berhubungan dengan komunikasi antarpribadi yang didefinisikan oleh Joseph A. Devito dalam bukunya “ The Interpersonal Communication Book” (Devito, 1989:4) sebagai
“proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika”. (the process of sending and receiving messages between two person, or among a small group of persons, with ome effect and some immediate feedback).
Dalam Shochib (2000: 17) pengertian psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi, saling memperhatikan, dan saling menyerahkan diri (Soelaeman, 1994: 5-10). Sedangkan pengertian pedagogis, keluarga adalah “satu” persekutuhan hidup yang dijalin oleh kasih sayang antara pasangan dua jenis manusia yag dikukuhkan dengan pernikahan, yang bermaksud untuk saling menyempurnakan diri itu terkandung perealisasian peran dan fungsi sebagai orang tua (Soelaeman, 1994:12).
Mengapa komunikasi dalam keluarga seringkali mengalami hambatan bahkan kegagalan antara orang tua dan anak?
Esensi keluarga (ibu dan ayah) adalah kesatuarahan dan kesatutujuan atau keutuhan dalam mengupayakan anak untuk memiliki dan mengembangkan konsep diri sebagai manusia komunikan. Keluarga dikatakan “utuh”, apabila di samping lengkap anggotanya, juga dirasakan lengkap oleh anggotanya terutama anak-anaknya. Jika dalam keluarga terjadi kesenjangan hubungan, perlu diimbangi dengan kualitas dan intensitas hubungan sehingga ketidakadaan ayah dan atau ibu di rumah tetap dirasakan kehadirannya dan dihayati secara psikologis. Ini diperlukan agar pengaruh, arahan, bimbingan, dan sistem nilai yang direalisasikan orang tua senantiasa tetap dihormati, mewarnai sikap dan pola perilaku anak-anaknya.
David (1992: 33-94) dalam (Sochib 2007: 19-21) mengkategorikan keluarga dalam pengertian sebagai keluarga seimbang adalah keluarga yang dtandai oleh keharmonisan hubungan (relasi) antara ayah dengan ibu, ayah dengan anak, serta ibu dengan anak. Dalam keluarga ini orang tua bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Setiap anggota keluarga saling menghormati dan saling memberi tanpa harus diminta. Orang tua sebagai koordinator keluarga harus berperilaku proaktif. Jika anak menentang otoritas, segera ditertibkan karena di dalam keluarga terdapat aturan-aturan dan harapan-harapan. Anak-anak merasa aman, walaupun tidak selalu disadari. Diantara anggota keluarga saling mendengarkan jika bicara bersama, melalui teladan dan dorongan orang tua. Setiap masalah dihadapi dan diupayakan untuk dipecahkan bersama.
Keluarga kuasa lebih menekankan kekuasaan daripada relasi. Pada keluarga ini, anak merasa seakan-akan ayah dan ibu mempunyai buku peraturan, ketetapan, ditambah daftar pekerjaan yang tidak pernah habis. Orang tua bertindak sebagai bos dan pengawas tertinggi. Anggota keluarga terutama anak-anak tidak memiliki kesempatan atau peluang agar dirinya “didengarkan”.
Keluarga protektif lebih menekankan pada tugas dan saling menyadari perasaan satu sama lain. Dalam keluarga ini ketidakcocokan sangat dihindari karena lebih menyukai suasana kedamaian. Sikap orang tua lebih banyak pada upaya memberi dukungan, perhatian, dan garis-garis pedoman sebagai rujukan kegiatan. Esensi dinamika keluarga adalah komunikasi dialogis yang didasarkan pada kepekaan dan rasa hormat.
Keluarga kacau adalah keluarga kurang teratur dan selalu mendua. Dalam keluarga ini cenderung timbul konflik (masalah) dan kurang peka memenuhi kebutuhan anak-anak. Anak sering diabaikan dan diperlakukan secara kejam karena kesenjangan hubungan antara mereka dengan orang tua. Keluarga kacau selalu tidak rukun. Orang tua menggambarkan kemarahan satu sama lain dan hanya ada sedikit relasi antara orang tua dengan anak-anaknya. Anak merasa terancam dan tidak sayang. Hampir sepanjang waktu mereka dimarahi atau ditekan. Anak-anak mendapatkan kesan bahwa mereka tidak diinginkan keluarga. Dinamika keluarga dalam banyak hal sering menimbulkan kontradiksi karena pada hakikatnya tidak ada keluarga. Rumah hanya sebagai terminal dan tempat berteduh oleh individu-individu.
Keluarga simbiosis dicirikan oleh orientasi dan perhatian keluarga yang kuat bahkan hampir seluruhnya terpusat pada anak-anak. Keluarga ini berlebihan dalam melakukan relasi. Orang tua sering merasa terancam karena meletakkan diri sepenuhnya pada anak-anak, dengan alasan “demi keselamatan”. Orang tua banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan dan memenuhi keinginan anak-anaknya. Anak dewasa dalam keluarga ini belum memperlihatkan perkembangan sosialnya. Dalam kesehariannya, dinamika keluarga ditandai oleh rutinitas kerja. Rumah dan keluarga mendominasi para anggota keluarga.
Di antara kelima pengertian keluarga dalam kategori bisa dikatakan bahwa komunikasi orang tua dan anak mengalami hambatan bahkan kegagalan karena komunikasi keluarga tersebut termasuk dalam kategori keluarga kuasa dan keluarga kacau karena di dalamnya dijelaskan bahwa orang tua terlalu berkuasa, segala peraturan yang dijalankan dalam keluarga harus sesuai dengan apa yang ada dalam buku peraturan dan tanpa mendengarkan apa yang dikomunikasikan anak atau keinginan anak akan kebutuhannya dan termasuk keluarga kacau karena cenderung timbul konflik dan kurang peka dalam memenuhi kebutuhan anak. Dalam Ali dan Anshori (2004: 94) ada sejumlah faktor dari dalam keluarga yang sangat dibutuhakan oleh anak dalam proses perkembangan sosialnya, yaitu kebutuhan akan rasa aman, dihargai, disayangi, diterima, dan kebebasan untuk menyatakan diri. Perasaan aman secara material berarti pemenuhan kebutuhan pakaian, makanan, dan sarana lain yang diperlukan sejauh tidak berlebihan dan tidak berada di luar kemampuan orang tua. Perasaan aman menjauhkan ketegangan, membantu dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, dan memberikan bantuan dalam menstabilkan emosinya.

Piramida Tingkat Kebutuhan Manusia

Ranking Kebutuhan Manusia oleh Abraham Harold Maslow (Naisaban, 2004: 278-279)
Manusia normal, baik anak maupun orang dewasa, senantiasa membutuhkan penghargaan atau dihargai oleh orang lain. Oleh karena itu, mempermalukan anak di depan orang banyak merupakan pukulan jiwa yang sangat besar dan dapat berakibat buruk bagi perkembangan sosial anak. Dalam aspek psikologis, anak dapat terhambat atau bahkan tertekan, misalnya saja kemampuan dan kreativitasnya sehingga mengakibatkan anak menjadi banyak berdiam diri. Sikap seperti ini muncul karena merasa bahwa sesuatu yang akan dikemukakannya tidak akan mungkin mendapat sambutan atau bahkan akan dipermalukan. Sebaliknya, memberikan pujian kepada anak secara tepat adalah sangat baik. Cara ini akan dapat menimbulkan perasaan disayang pada diri anak yang dinyatakan secara menyenangkan oleh orang tua, menyatakan kasih sayang kepada anak sampai anak menyadari bahwa dirinya mengetahui bahwa dirinya memang disayang oleh orang tuanya adalah sesuatu yang sangat penting. Dalam situasi demikian, anak akan merasa aman, dihargai, dan disayangi. Anak tidak merasa takut untuk menyatakan dirinya, pendapatnya, maupun mendiskusikan kesulitan yang dihadapinya karena merasa bahwa orang tua atau keluarganya ibarat sumber kekuatan yang selalu membantunya di manapun dan kapan pun dirinya memerlukannya.
Dengan kata lain yang sangat dibutuhkan oleh anak adalah iklim kehidupan keluarga yang kondusif. Apa yang sesungguhnya yang dimaksud dengan iklim kehidupan keluarga itu? Jay Kesler (1978:47) mendefinisikan iklim kehidupan keluarga sebagai:
The set internal characteristics that distinguishes one family from another and influences the behavior of people in it is called family climate...Climate is determined importantly by conduct, attitudes, and expectations of other persons.
Hoffam mengemukakan bahwa ada tiga pola dalam membimbing perkembangan hubungan sosial anak dalam komunikasi antar pribadi yaitu pola asuh bina kasih sayang (induction), pola asuh lepas kasih (love withdrawal), dan pola asuh unjuk kuasa (power assertion). Berdasarkan penelitian yang mendalam yang dilakukan oleh Hoffman (1989), Like (1993), dan Sarijannti (1999) menunjukkan bahwa pola asuh bina kasih adalah yang paling efektif untuk membimbing perkembangan hubungan sosial anak (Ali dan Asrori, 2004:104).
Hambatan dalam berkomunikasi dengan anak yang telah diungkapkan di atas dapat diatasi dengan beberapa solusi (dalam www.google.com, hidayatullah Mei 2007) adalah sebagai berikut:
1. Manage waktu kita, jangan tergesa-gesa dalam mengurusi anak.
2. Belajar kenali diri kita, lawan bicara kita, sebab tiap pribadi unik.
3. Pahami bahwa kebutuhan dan kemauan berbeda, apalagi pada usia tiap anak yang berbeda.
4. Belajar bahasa tubuh anak.
5. Jadilah pendengar aktif.
6. Jangan biarkan anak merasa tidak percaya diri, mendoktrin anak, pilah setiap masalah anak, orang tua, atau masalah bersama.
7. Teladan lebih baik dari 1000 kata seperti nasehat Luqman pada anaknya “jangan jauh dari Al-qur’an dan Al-Hadist”, hidupkan Sunnah sampai ke hal-hal yang kecil.
Sutan Takdir Alisyahbana (1974:34) dalam Sochib (2000: 24), menyatakan bahwa manusia yang mampu merealisasikan kehidupannya berdasarkan nilai-nilai agama, berarti dia telah memiliki harkat dan martabat yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai agama merupakan sumber nilai pertama dan utama bagi para penganutnya untuk dijabarkan dan direalisasikan dalam kehidupan kesehariannya.
Sayekti (1991:147), dalam disertasinya menyatakan bahwa nilai-nilai agama sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan keluarga. Keluarga yang berakar pada ketaatan beragama, perilaku-perilaku anggota keluarganya akan senantiasa dikendalikan oleh keyakinan terhadap agamanya.
Adalah penting bagi orang tua mengajarkan anaknya pendidikan agama sejak dini. Anak merupakan amanah Allah kepada orang tuanya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah S.A.W bersabda: “setiap anak dilahirkan dalam fitrah (suci yakni Muslim). Pendidikan agama Islam sejak dini sangat penting terutama di dalam membentuk karakter anak, segera ditegur, namun tegurlah dengan cara yang baik, tidak dengan kekerasan. Sebab bila kita mendidik dengan kekerasan maka generasi yang terbentuk akan keras juga. Ajarkan anak untuk menjadi manusia yang muttaqin yaitu senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (www.yahoo.com, akhwat, Juni 2007).
Komunikasi dalam keluarga akan terjalin baik jika masing-maing anggota keluarga sungguh-sungguh dalam memberikan dan menerima informasi. Karena dalam komunikasi antarpribadi ini tidak hanya dimaksudkan untuk “memberitahu” tetapi terkandung sifat berbagi diri, pikiran, perasaan, aspirasi dan aneka segi kehidupan. Dalam keluarga, komunikasi harus terjalin antara suami – istri maupun antara orang tua dengan anak, tanpa itu semua komunikasi yang efektif akan jauh diharapkan.

Adapun faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal adalah sebagai berikut: percaya, sikap suportif, dan sikap terbuka. Dengan adanya faktor-faktor tersebut komunikasi antara orang tua dan anak maupun anggota keluarga lainnya tidak akan mengalami hambatan dan kegagalan komunikasi. Untuk menjalin komunikasi yang harmonis diperlukan rasa percaya yang tinggi diantara keduanya agar tidak menimbulkan misunderstanding, sikap suportif akan mengurangi sikap defensif dan sikap terbuka akan mengurangi sikap dogmatisme (Rakhmat, 2002:129-138).
Bagaimana sebaiknya komunikasi dan relasi antarpribadi difungsikan bagi peserta keluarga?
Komunikasi antara suami – istri
Dalam keluarga, suami dan istri mempunyai kedudukan dan tanggung jawab yang sederajat, diantara mereka berdua mungkin saja terjadi perubahan kepemimpinan untuk hal-hal tertentu tergantung siapa yang lebih mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi. Suami istri akan melibatkan anak-anaknya untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan keluarga. Suami istri bersama-sama perlu mempertimbangkan pembagian tugas yang adil dan jelas diantara anggota keluarganya. Suami istri perlu menekankan tanggung jawab yang seimbang, memandang kesamaan hak, keunikan masing-masing, kebahagiaan, tanggung jawab dan komitmen sebagai nilai-nilai yang lebih diutamakan. Mereka perlu menghayati potensi serta kemampuan masing-masing, saling mendukung dan saling membantu serta berusaha untuk tidak saling menjatuhkan. Masing-maing memikul tanggung jawab yang penuh atas pikiran, perasaan yang timbul dari tindakan-tindakan yang dilakukan. Masing-masing dapat mengungkapkan pandangan-pandangan dan harapan-harapan dengan penuh percaya diri, tidak merendahkan, memaksa atau tanpa memberi kesempatan kepada yang lain untuk berkomentar.
Komunikasi antara orang tua dan anak
Dalam suatu keluarga komunikasi antara orang tua dan anak perlu diperhatikan. Pada hakikatnya anak merupakan makhluk yang dikonsepkan untuk tumbuh da berkembang dengan bantuan orang lain untuk menjadi manusia seutuhnya. Dalam hal ini orang tua mempunyai tanggung jawab yang utama. Komunikasi antara orang tua dan anak tidaklah merupakan hubungan satu arah, merupakan timbal balik sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing (www.google.com, bkkbn, Mei 2007).

Komunikasi yang sehat

Komunikasi yang sehat akan terlaksana dengan sendirinya apabila antara orang tua dan anak ada kedekatan emosi atau kehangatan hubungan. Anak-anak dengan sendirinya akan menjadi pribadi yang dengan senang hati bercerita dan menumpahkan perasaan sedih dan bahagia. Orang tua yang pemurung akan membentuk anaknya menjadi pemurung. Orang tua yang pemarah akan menghasilkan anak-anak yang pemarah. Anak-anak yang sehat (akhlaq/jiwanya) dan bahagia hanya lahir dari orang tua yang sehat dan bahagia. Untuk membina anak-anak menjadi pribadi yang sehat, bahagia tidak menuntut banyak persyaratan seperti berpendidikan tinggi dan berharta banyak, akan tetapi lebih bertolak pada kepribadian daripada orang tua. Sejarah membuktikan betapa banyak orang-oarang yang baik dan hebat berasal dari keluarga yang sederhana. Wajah orang tua yang bercahaya dan dihiasi seyuman ikhlas yang diberikan kepada anak-anaknya setiap akan berangkat sekolah dan setiap akan tidur jauh lebih berharga dibanding timpalan materi yang diberikan kepada mereka.

Cara Mendengarkan yang baik

Memang, tidak ada orang tua sempurna, karena setiap orang tua memiliki masalahnya masing-masing hingga seringkali memblokir hubungan positif yang seharusnya terjalin antara mereka dengan anak-anak (dalam www.yahoo.com, Juni 2007)
1. Fokuskan perhatian pada anak.
2. Re-statement, mengulangi cerita anak untuk menyamakan pengertian.
3. Menggali perasaan dan pendapat anak akan masalah yang sedang dihadapi.
4. Bantu anak mendefinisikan perasaan.
5. Bertanya, membimbing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka semakin memahami kejadian yang dialami, teman yang diahadapi, perasaan yang mereka rasakan serta sikap-tindakan yang harus mereka lakukan sebagai pemecahannya.
6. Mendorong semangat anak untuk bercerita.
7. Mendorong anak mengambil keputusan tepat.
8. Menunggu redanya emosi anak dan mengajak berfikir positif.
Menjadi orang tua sekaligus sahabat
Perasaan orang tua dalam membina anak remaja tidak dapat diukur. Orang tua harus menyadari bahwa pada saat ini memasuki masa dunia anak remaja, anak-anak mengalami masa transisi antara lain tidak ingin tergantung dengan orang tua, merasa tidak membutuhkan orang tua, tidak banyak bicara, serta tidak ingin banyak diawasi. Remaja membutuhkan bimbingan orang tua untuk membentuk pribadi yang baik dan mengembangkan berbagai potensi diri. Anak perlu diarahkan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Mereka harus dibantu untuk membentuk nilai-nilai yang memungkinkan mereka untuk membuat pilihan bijaksana dan menggunakan kebebasan mereka secara bijaksana (www.google.com,bkkbn, Mei 2007).
Kepribadian yang dimiliki seseorang (orang tua) akan berpengaruh terhadap akhlak, moral, budi pekerti, etika, dan estetika orang tersebut ketika berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain (anak) dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, etika, moral, norma, nilai, dan estetika yang dimiliki akan menjadi landasan perilku seseorang sehingga tampak dan membentuk menjadi budi pekertinya sebagai wujud kepribadian orang itu (Sjarkawi, 2006: 33-34). Dengan mempunyai kepribadian seperti itu orang tua akan timbul percaya diri yang tinggi untuk memberikan contoh buat anaknya dan akhirnya akan menimbulkan good effect buat kelancaran komunikasi dan hubungan yang hangat antara keduanya.
Dalam Rakhmat, (2002: 122), model permainan memegang peranan penting dalam hubungan interpersonal dalam komunikasi antarpribadi. Model ini berasal dari psikiater Eric Berne (1964, 1972) yang menceritakan dalam bukunya “Games People Play” yang dikenal dengan analisisnya transaksional. Yang mendasari permainan ini adalah tiga kepribadiam manusia – Orang Tua, Orang Dewasa, dan Anak. Orang Tua adalah aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang kita terima dari orang tua kita atau orang yang kita anggap orang tua kita. Orang Dewasa adalah bagian kepribadian yang megolah informasi secara rasional, sesuai dengan situasi, dan biasanya berkenaan dengan masalah-masalah penting yang memerlukan pengambilan keputusan secara sadar. Anak adalah unsur kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak dan mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas, dan kesenangan.
Dari model permainan untuk menciptakan komunikasi yang harmonis di antara anggota keluarga kadangkala kita akan bermain sebagai orang tua, dewasa dan anak-anak. Karena untuk menarik perhatian seorang anak kita sebagai orang tua bisa bermain sesuai situasi dan kondisi (piramida kebutuhan) yang dibutuhkan seorang anak sehingga bisa tercapainya tujuan bersama yaitu keefektifan komunikasi di antara keduanya. Walaupun kadangkala itu susah untuk dilakukan atau diaplikasikan dalam komunikasi keluarga tetapi itu merupakan suatu keharusan sebagai orang tua untuk bermain sebagai orang tua, dewasa, dan anak begitu pula orang tua mengharapkan sebaliknya dari seorang anak agar menimbulkan keharmonisan komunikasi.
Soal bagaimana berkomunikasi yang baik dalam satu keluarga terdapat dalam Al-Qur’an. Untuk berkomunikasi harus dilakukan dengan qaulan sadidan (Q.S. 4: 9). Artinya, pembicaraan yang benar. Dengan selalu berkata benar atau jujur di antara anggota keluarga.
Sementara itu, dalam hubungan antara pasangan suami-istri juga diperlukan adanya keterbukaan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat curiga di antara ke dua belah pihak. Bila tidak amanah atau jujur yang kemudian terjadi adalah berkembangnya sikap saling curiga dan tidak mempercayai.
Dalam surat Al-Israa ayat 23 terdapat kalimat qaulan kariman (perkatan yang mulia). Dalam kandungan ayat ini disebutkan bahwa anak-anak dilarang mengatakan “ah” dan membentak orang tua kita. Anak harus sopan dan santun ketika orang tua mengajaknya berbicara dan juga ketika orang tua menyuruhnya untuk berbuat sesuatu. Ayat ini sangat memelihara perasaan sehingga tidak menyakiti orang tua.
Selanjutnya, dalam surat An-Nisaa ayat 5 terdapat kata qaulan ma’ruf (perkataan yang baik). Kepada orang tua yang mempunyai anak-anak masih kecil ataupun dewasa tapi belum bisa mengatur harta yang dimilikinya, maka diharapkan orang tua tidak memberikan dulu harta tersebut kepada anaknya. Karena dikhawatirkan anak tidak bisa memanfaatkan harta tersebut dengan sebaik-baiknya malah justru menghambur-hamburkannya. Tentu dalam persoalan ini, orang tua harus berkata dengan perkataan yang bijak dan dimengerti oleh anak, tanpa menyinggung perasaan anak yang cenderung ingin menang sendiri.
Komunikasi antarpribadi harus dilakukan dengan perkataan yang lemah lembut atau qaulan layyinan (Q.S. 20: 44). Ibarat api yang harus dilawan dengan air, begitupun bila anak emosional dan egois diharapkan orang tua memberikan pengarahan, didikan, dan larangannya untuk tidak berbuat yang tidak baik dengan perkataan yang bisa membawa suasana lebih sejuk atau perkataan lemah lembut.
Komunikasi dalam keluarga juga harus dilakukan dengan qaulan balighan (perkataan yang jelas atau fasih) (Q.S. An-Nisaa:63). Misal, ketika ditanya suaminya tentang suatu hal, si istri menjawabnya dengan perkataan yang tidak jelas. Ini bisa menimbulkan ketersinggungan pada lawan bicaranya (suami), karena merasa pertanyaannya tidak dihiraukan. Atau sebaliknya dan akibatnya akan menimbulkan suatu pertengkaran.
Komunikasi juga harus dilakukan dengan qaulan maysuran atau perkataan yang pantas (Al-Israa: 28). Ketika orang tua menjanjikan sesuatu hadiah kepada anaknya, namun janji itu tidak terpenuhi pada waktunya maka orang tua harus memberikan alasan dengan perkataan yang pantas disampaikan untuk anaknya. Orang tua bisa berkata kepada anaknya, bahwa apa yang sudah dijanjikan itu belum ada rezekinya dari Allah SWT (www.pikiran-rakyat.com, renungan_jumat, Juni 2007).
Menurut saya komunikasi dan relasi antar pribadi difungsikan pada setiap peserta keluarga harus maksimal maksudnya dengan hubungan yang harmonis dan tidak terjadi komunikasi yang hanya satu arah saja tetapi harus ada feedback antara orang tua dan anak, suami dan istri. Agar yang dimaksudkan disini yaitu tidak terjadi miscommunication yang menghasilkan misunderstanding dan akhirnya menghasilkan bad effect antara keduanya. Faktor keakraban dan kedekatan itu juga sangat berpengaruh dalam menjalin komunikasi yang efektif antar anggota keluarga, jangan sampai ada jarak yang jauh antara orang tua dan anak, suami-istri karena hanya alasan kesibukan orang tua, atau kesibukan masing-masing orang sehingga tidak memperhatikan bagaimana pemenuhan kebutuhan anaknya dan antar suami-istri.

III. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

KESIMPULAN
Proses komunikasi antara orang tua dengan anak, sangat membantu anak memahami dirinya sendiri, perasaannya, pikirannya, pendapatnya dan keinginan-keinginannya. Anak dapat mengidentifikaskan perasaannya secara tepat sehingga membantunya untuk mengenali perasaan yang sama pada orang lain. Lama-kelamaan, semakin anak terlatih dalam mengenali emosi, tumbuh keyakinan dan sense of control terhadap perasaannya sendiri (lebih mudah mengendalikan sesuatu yang telah diketahui). Dalam pengertiannya bahwa diharapkan tidak akan terjadi disharmonis relation atau keterhambatan dan kegagalan komunikasi antara orang tua dan anak atau dengan anggota keluarga lain.
Yaumil Agus Akhir, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, mengungkapkan tentang sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa anak remaja pada dasarnya masih sangat membutuhkan perhatian dari orang tua, namun di satu sisi, mereka juga tidak terlalu senang bila orang tua terlalu ikut campur dalam urusan-urusan yang menurut remaja ini dianggap sangat pribadi. Barangkali yang menjadikan komunikasi antarpribadi antara orang tua dan anak remaja mencapai relasi yang efektif adalah adanya empati yang ditunjukkan orang tua. Selama ini dialog dengan keterbukaan yang dilandasi rasa saling percaya dan kasih sayang seringkali terabaikan karena banyak faktor (www.google.com bkkbn, Mei 2007).
Dalam lingkup keluarga, komunikasi dapat dilakukan antar anggota keluarga, dan jika pesan jelas, lengkap, singkat, benar dan sopan maka diharapkan komunikasi akan berhasil seperti yang diharapkan. Keefektifan hubungan antar pribadi adalah taraf seberapa jauh akibat-akibat dari tingkah laku kita sesuai dengan yang kita harapkan. Kita dapat meningkatkan kefektifan kita dalam hubungan antarpribadi dengan cara berlatih mengungkapkan maksud-keinginan kita, menerima umpan balik tentang tingkah laku kita, dan memodifikasikan tingkah laku kita sampai orang lain mempersepsikannya sebagaimana kita maksudkan. Artinya, sampai akibat-akibat yang ditimbulkan oleh tingkah laku kita dalam diri orang lain itu seperti yang kita maksudkan.

REKOMENDASI

Agar komunikasi dan relasi antar anggota keluarga difungsikan dan tidak terjadi hambatan dan kegagalan komunikasi harus ada hubungan yang harmonis, yaitu terjadinya komunikasi dua arah dalam keluarga karena komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak adalah wahana yang sangat penting dalam pembentukan pribadi anak yang kokoh dan dapat diharapkan. Dari sini para orang tua semestinya menyadari betapa tanpa strategi komunikasi yang jitu dalam keluarga, maka jalan menuju kegagalan dalam mencetak putra-putri yang berguna, akan nampak jelas depan mata.
Kepribadian seseorang yang tidak dewasa akan sangat mudah terpengaruh dan cepat berubah kearah negatif bila tidak dilandasi dengan agama yang benar dan suasana keluarga yang sehat. Saya akan mempersembahkan suatu puisi yang indah dan penuh makna agar bisa diperhatikan semua orang tua untuk anak-anaknya.
Puisi ini sangat penting untuk diketahui oleh orang tua karena di dalamnya menyimpan sejuta makna yang menghantarkan kognisi orang tua untuk dijadikan sebagai bahan renungan dan akhirnya menyadari bahwa kehangatan hubungan antara orang tua dan anak maupun anggota keluarga lainnya harus dijaga selalu. Untuk menciptakan komunikasi dan hubungan antarpribadi yang baik satu sama lain harus adanya kesamaan pemahaman bahwa diantaranya saling membutuhkan (bisa dilihat piramida kebutuhan yang telah diuraikan di atas).

Puisi indah dan penuh makna ditulis oleh Dorothy Law Nolte

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah hati
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Puisi indah nasehat untuk seorang ibu Khalil Gibran

Anakmu bukan anakmu, mereka putra Sang Hidup yang rindu hati dirinya
Lewat engkau mereka lahir, tetapi bukan dari engkau
Mereka ada padamu, tetapi bukan milikmu
Beri mereka kasih sayang, tetapi jangan suapi pikirannya
Kau boleh menyerupai mereka, tetapi jangan paksa mereka menyerupaimu
Mari kita menjadi orang tua dengan “hati” dan membantu tumbuh kembang anak-anak kita dengan “hati” pula hindari ketidakharmonisan komunikasi. Didik mereka dengan berlandaskan agama insyaallah cita-cita mewujudkan generasi muda bangsa Indonesia yang siap pakai.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Jamaludin, (2001), Menjadi Orang Tua Sehat, retrieved Mei 29, 2007 from www.google.com untuk http://www.biropersonel.metro-polri.net yang direkam pada 13 Mei 2007 01:32:33 GMT.
Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori, 2004, Psikologi remaja (Perkembangan Peserta Didik), Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.
Devito, Joseph A., 1997, Komunikasi Antarmanusia, Penerbit Professional Books, Jakarta.
Dian, P, 2007, Menjalin Komunikasi yang Efektif dalam Keluarga, retrieved Mei 29, 2007 from www.google.com, bkkbn. html. direkam pada 28 Apr 2007 07:21:36 GMT.
Dienullah, Mohammad J., 2007, Komunikasi Islami Cegah KDRT, retrieved 4 juni, 2007 from www.pikiran-rakyat.com, renungan-jumat.htm
Effendy, Onong Uchajana, 2003, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Gerungan, 2002, Psikologi Sosial, Penerbit Refika Aditama, Bandung.
Muslimah, 2006, Hambatan dalam Berkomunikasi dengan Anak, retrieved Mei 29, 2007 from www.google.com, hidayatullah.com direkam pada 23 Mei 2007 05:15:07 GMT.
Naisaban, Ladislaus, 2004, Para Psikolog Terkemuka Dunia (Riwayat Hidup Pokok Pikiran dan Karya), Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Rakhmat, Jalaluddin, 2002, Psikologi Komunikasi, Penerbit PT. Rosdakarya, Bandung.
Rahman, Jamaal Abdur, 2005, Tahapan Mendidik Anak, Penerbit Isyad Baitus Salam, Bandung.
Rini, Jasinta F. 2005, Mendengar atau Terdengar?, retrieved Juni, 2007 from www.yahoo.com
Sjarkawi, 2006, Pembentukan Kepribadian Anak (Peran Moral, Intelektual, Emosional, dan Sosial sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri), Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.
Sochib, Mohammad, 2000, Pola Asuh Orang Tua (Dalam Membantu anak Mengembangkan Disiplin Diri), Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Supratiknya, 1995, Komunikasi Antarpribadi (Tinjauan Psikologis), Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar